Wednesday, December 13, 2017

Heningnya Pantai Tanjung Bongo Hilangkan Kejenuhan Wisatawan

Seorang wisatawan tengah menikmati keindahan Pantai Tanjung Bongo yang ada di Kabupaten Lombok Tengah. (foto istimewa)


Pantai Tanjung Bongo merupakan salah satu destinasi wisata yang ada di Kabupaten Lombok Tengah. Pesonanya tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan pantai lain yang sudah terkenal di daerah ini. Pantai ini dapat dijangkau hanya dengan berkendara kurang lebih 30 menit dari Lombok International Airport.

Tanjung Bongo dapat dijangkau dengan terlebih dahulu menyusuri pantai Tanjung Aan di bagian barat saat air laut sedang surut. Momen surutnya air laut bisa terjadi pada pagi hari atau bisa juga pada sore hari. Selain itu, kita juga bisa melewati jalur laut dengan menggunakan perahu dari Pantai Tanjung Aan. Harga sewa perahu sekitar Rp 150.000 sampai dengan Rp 350.000 tergantung jumlah penumpang.

Karena lokasi pantai yang tersembunyi, Tanjung Bongo sangat cocok dijadikan sebagai lokasi berlibur bersama pasangan atau keluarga. Pasir putih dengan batu karang yang indah serta bukit menjadi perpaduan yang sangat bagus dijadikan latar untuk foto yang indah. Jika air laut sedang surut, di pantai ini terbentuk sebuah kolam kecil yang bisa digunakan untuk berenang. Saat air laut pasang sangat tidak disarankan untuk berenang karena ombak sangat keras disebabkan posisi pantai berhadapan langsung dengan samudera Hindia.

Keadaan dan suasana di pantai ini sangat menenangkan karena jauh dari hingar-bingar, sehingga wisatawan bisa bersantai di sini. Ketika berada di pantai ini, wisatawan akan benar-benar dimanjakan dengan pemandangan yang sangat mempesona. 

Lokasi pantai ini tidak terlalu jauh dari Kota Mataram. Jaraknya sekitar 60-65 km dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam atau sekitar 30 menit dari Bandara Internasional Lombok. Tiket masuk kawasan wisata ini pun juga murah, hanya Rp 5 ribu untuk roda dua dan Rp 10 ribu untuk roda empat.  (Linggauni Suara NTB)
Share:

Beragam Pilihan Objek Wisata di Lombok Tengah

Presiden Joko Widodo terpesona dengan keindahan Pantai Kuta Lombok Tengah saat berkunjung  Oktober 2017

Kabupaten Lombok Tengah memiliki banyak potensi destinasi wisata yang dapat dikembangkan. Tidak saja Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, namun ada pula destinasi-destinasi pendukung lainnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah H. Lalu Putria mengatakan bahwa pihaknya terus mendorong untuk memaksimalkan potensi wisata yang ada. Termasuk kawasan destinasi di luar KEK Mandalika.

 “Lombok Tengah memiliki banyak destinasi wisata yang bisa dikembangkan dan bisa menjadi tujuan wisatawan. Selain berkunjung ke Mandalika, ada banyak pilihan destinasi wisata lain yang dapat dinikmati oleh wisatawan,” ujarnya.

Diketahui bahwa Kabupaten Lombok Tengah memiliki banyak potensi pariwisata yang dapat dikembangkan. Sehingga saat berkunjung, wisatawan tidak hanya dapat menikmati keindahan Mandalika. Namun juga destinasi lain yang tidak kalah menarik untuk disaksikan.

Terdapat berbagi  jenis objek wisata yang ada di Kabupaten Lombok Tengah. Objek Wisata Alam  temasuk hutan dan perairan dalam. Di antaranya Benang Stokel, Benang Kelambu dan Aik Bukak. Daya tariknya adalah Air Terjun, Outbound Area, Camping, Kolam renang dan keindahan Alam serat pengamatan flora dan fauna.

Ada pula objek wisata bahari, diantaranya Pantai Gerupuk, Pantai Awang, Pantai Aan, Pantai Seger, Pantai Kuta, Selong Belanak dan Pantai Mawi. Ada pula Pantai Tomang, Pantai Are Guling, Pantai Pengatap, Rowok, Torok Aik Belek dan Pantai Mawun. Daya Tarik dari pantai-pantai di Lombok Tengah ini  selain pasir putihnya, juga perbukitan, ombak untuk surfing, sunset, perkampungan nelayan, budi daya ikan kerapu, budi daya mutiara, pasar ikan tradisional dan terumbu karang.

Ada objek wisata alam berupa geologi dan vulkanologi. Diantranya Goa Bengkang, Goa Pengembur, Gunung Rinjani dan Batu Rijan. Gunung Rinjani sangat terkenal sebagai objek wisata. Aktivitas yang bisa dilakukan adalah Trekking, Pengamatan Flora Langka, Pengamatan Fauna langka, Photografi, memancing di danau dan bisa juga dipakai untuk wisata religi.

Objek wisata budaya peninggalan sejarah. Diantaranya Dusun Sade dan Dusun Ende yang merupakan rumah tradisional, kampung tradisional, tipologi pemukiman suku sasak, kesenian daerah dan upacara adat. Masjid Kuno Rembitan, Masjid Gunung Pujut adalah masjid kuno, tipologi Pemukiman Suku Sasak dan Upacara Agama. Makam Nyatok, Makam Ketak, Makam Serewe adalah makam Tokoh Agama Islam dan Makam Raja Pejanggik. Aktivitas wisata yang bisa dilakukan adalah belajar menenun, photografi, wisata ziarah, pengamatan upacara agama dan penelitian.

Objek wisata budaya tentang kehidupan masyarakat. Kerajinan Gerabah Penujak, Kerajinan Tenun Tradisional Sukarare, Kerajinan Anyaman Rotan atau Ketak Beleke. Aktivitas wisatanya adalah study tour, penelitian, dan berbelanja.

Objek wisata buatan seperti olahraga khusus yaitu Pacuan Kuda, Bendungan Pengga, Bendungan Batujai. Sedangkan objek wisata buatan festival khusus, yaitu Peresean, Rudat,  Oncer,  Gandrung,  Amak Abir dan Bau Nyale. Ada pula  Gendang Belek, Cilokaq, Menting Lelakaq dan Pagelaran Zikir Madani. Selain itu ada Sanggar Rinjani,  Jangger,  Ngorek,  Jejaranan, Tambur, Genggong, Drama Sakral, Cupak Grantang,  Wayang Kulit, Rudat,  Macapat, Gansing, Selodor, Engrang, Pencak, Layang-layang dan Main Karet. Selain itu, ada pula objek wisata buatan berupa wisata agro Sekedek yaitu budi daya tanaman jeruk. (Linggauni Suara NTB)


Share:

Air Terjun Titian Batu Kawangan Lombok Tengah Sajikan Kesegaran Alami

Air Terjun Titian Kawangan Lombok Tengah
Air Terjun Titian Kawangan berada di Kabupaten Lombok Tengah menyajikan kesegaran yang alami. Bagi wisatawan yang mungkin merasa bosan berkunjung ke pantai, air terjun ini merupakan salah satu alternatif destinasi wisata yang dapat dikunjungi.

Air terjun ini berada di Desa Lantan Kecamatan Batukliang Utara. Memang tidak banyak yang berkunjung ke air terjun ini, karena belum dimasukkan dalam paket wisata oleh para pelaku pariwisata.

Waktu tempuh menuju air terjun ini dari Kota Mataram sekitar 2,5 jam menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Wisatawan disarankan menggunakan kendaran roda dua agar lebih mudah mengakses air terjun ini. Jalur yang dilalui dari Desa Lantan menuju kawasan wisata Titian Batu Kawangan merupakan jalan tanah yang licin dan berdebu. Di Desa Lantan, Kecamatan Batukliang Utara ini terdapat 9 air terjun yang dapat dikunjungi, salah satunya Air Terjun Titian Batu Kawangan ini.

“Saat sampai, semua lelah terbayar. Memang air terjunnya tidak terlalu tinggi dan airnya tidak terlalu deras, tapi suasananya itu sangat menyegarkan,” ujar wisatawan asal Kota Mataram Ririn, di Mataram, Selasa (12/12/2017).

Meski demikian, ia menyayangkan di destinasi ini tidak ada fasilitas apapun. Sehingga mengurangi kenyamanan wisatawan yang berkunjung. Kendati wisatawan masih bisa menikmati suasana dan keindahan alam di air terjun ini.

“Memang tidak ada apa-apa karena belum ditata oleh pemerintah. Tapi kita masih bisa menikmati suasananya yang menyegarkan dan bisa foto-foto dengan latar air terjunnya,” ujarnya.

Wisatawan hanya dapat menjangkau air terjun ini dengan berjalan kaki dengan waktu tempuh kurang lebih 25 menit dari parkiran motor. Air terjun ini juga sering disebut dengan Air Terjun Tete Batu oleh masyarakat sekitar. Wisatawan juga akan disambut dengan keramahan penduduk sekitar yang memang sudah terbiasa dengan kedatangan wisatawan. (Linggauni Suara NTB)


Share:

Monday, December 11, 2017

Gili Sunut dan Keindahan Alam yang Memikat Hati Wisatawan

Gili Sunut Lombok Timur (istimewa)
Gili Sunut merupakan salah satu destinasi wisata yang ada di Kabupaten Lombok Timur. Belakangan pantai ini semakin banyak dikunjungi wisatawan karena keindahannya. Apalagi pantai ini juga dekat dengan destinasi wisata lainnya. Gili Sunut berada di Dusun Temeak Desa Pemongkong Kecamatan Jerowaru.

Gili Sunut memiliki garis sejajar dengan wilayah Tanjung Ringgit. Gili ini juga berdekatan dengan Tanjung Bloam dan Pantai Tangsi atau Pantai Pink. Hanya saja, kondisi jalan menuju Gili Sunut masih memprihatinkan. Sekitar 2 kilometer mendekati lokasi gili ini masih berupa jalan tanah. Pada musim penghujan, kondisi fisik jalannya pun menjadi licin dan sulit dilewati.

“Jadi bisa sekali jalan, ke Pantai Pink sekaligus ke Gili Sunut. Sayang kalau tidak berkunjung ke banyak gili lainnya,” kata wisatawan asal Surabaya Beni Putra, Minggu (10/12/2017).

Ia mengatakan bahwa Gili Sunut memiliki keindahan yang tidak kalah dari gili-gili lainnya. Namun wisatawan harus menyiapkan tenaga ekstra untuk bisa sampai di gili cantik ini. Sebab kondisi jalan yang rusak akan membuat perjalanan wisatawan menjadi sedikit terganggu. Namun wisatawan yang mampu sampai di gili ini akan tersihir dengan keindahannya. Pemandangan sekitarnya yang memukau, objek wisata yang indah serta lokasi budidaya mutiara yang cukup terkenal.

Kondisi pantai di Gili Sunut memiliki kesamaan dengan pantai-pantai yang ada di sekitarnya. Tekstur pasir putih bercampur merah muda dan berbentuk butiran merica. Demikian pula tekstur batu karang yang ada  di Gili Sunut, semuanya berwarna pink dan sangat indah dipandang mata.

Keindahan bawah laut yang ada di Gili Sunut yaitu wisatawan dapat menemukan berbagai jenis bintang laut. Dari yang berwarna biru maupun yang berwarna merah jingga. Demikian juga aneka ragam terumbu karang yang memukau serta kawanan ikan yang sedang berkerumun.

“Kalau mau snorkeling dan diving memang Gili Sunut itu tempat yang paling pas. Dari semua tempat menyelam yang saya tahu di NTB ini, Gili Sunut yang paling indah bawah lautnya. Ikannya banyak macamnya, selain itu juga bersih,” ujarnya.  (Linggauni)
Share:

Letusan Gunung Agung Mulai Turun, Okupansi Hotel di Lombok Mulai Membaik

Salah satu menu hotel di Lombok dengan sajian lengkap untuk tamu. Minggu kedua Desember, kunjungan tamu hotel mulai membaik setelah letusan Gunung Agung mulai mereda
Setelah sebelumnya disibukkan dengan dampak aktivitas erupsi Gunung Agung, saat ini pariwisata mulai berjalan normal. Meski belum maksimal, namun okupansi hotel dianggap sudah mulai naik. Sehingga dapat dipastikan pariwisata NTB perlahan kembali normal.

“Kita patut bersyukur karena sekarang okupansi hotel mulai naik dari sebelumnya yang hanya 30 persen sekarang sudah lebih. Ini berkat kerja keras semua pihak dalam memajukan pariwisata NTB,” kata Ketua Asosiasi Hotel Mataram Ernanda Agung, di Mataram, Sabtu (10/12/2017).

Ia mengatakan bahwa di minggu kedua bulan Desember ini terjadi peningkatan okupansi hotel di Kota Mataram. Ini memperlihatkan bahwa saat ini wisatawan sudah kembali ingin berkunjung setelah sebelumnya sempat menunda kedatangannya ke Lombok.

“Sekarang sudah ada yang melakukan penjadwalan ulang. Meskipun tidak semua, tapi kita lihat ini ada peningkatan dibandingkan minggu sebelumnya,” ujarnya.

Ia juga mengatakan bahkan ada salah satu hotel di Kota Mataram yang okupansinya mencapai 90 persen. Ini merupakan pertanda yang baik, sebab wisatawan sudah tidak takut lagi untuk berkunjung. Ditambah dengan pembukaan bandara yang dilakukan oleh Manajemen LIA.

“Bandara sudah dibuka  dan beroperasi normal, saya rasa ini juga yang menjadi pertimbangan kenapa banyak wisatawan yang memutuskan untuk melakukan penjadwalan ulang kunjungan,” ujarnya.

Ia berharap kunjungan wisatawan ke NTB, khususnya Kota Mataram bisa terus meningkat. Sehingga okupansi hotel juga bisa semakin membaik kedepannya. Sebab pariwisata NTB merupakan salah satu sektor yang diunggulkan untuk meningkatkan perekonomian warga. Terutama warga yang berada di lingkar destinasi.

“Kami pikir wisatawan sudah paham dengan kondisinya. Bahwa Lombok aman untuk dikunjungi. Pada awalnya kan mereka takut karena mereka berpikir Lombok dalam kondisi yang berbahaya, padahal tidak,” ujarnya.

Ia juga berharap semua pihak dapat terus berupaya untuk memberikan yang terbaik kepada wisatawan. Selain itu, promosi juga dapat dilakukan secara berkelanjutan. Mengingat kondisi Lombok yang dalam keadaan baik dan aman untuk dikunjungi wisatawan dari mana saja. (Linggauni)
Share:

Tuesday, December 5, 2017

Dampak Meletusnya Gunung Agung, Kunjungan ke Gili Trawangan Menurun

 
Wisatawan di Gili Trawangan saat menunggu boat untuk diseberangkan ke Bali, Semenjak Gunung Agung meletus 25 November 2017, tingkat kunjungan wisatawan ke Gili Trawangan menurun
Gili Trawangan masih menjadi salah satu destinasi wisata primadona di NTB. Namun sepekan terakhir jumlah kunjungan ke Gili Trawangan dan Gili Air mengalami penurunan drastis. Hal ini juga dapat dilihat dari penurunan jumlah wisatawan yang menyeberang dari Padangbai ke Gili Trawangan dan Gili Air mengalami penurunan.

Dilansir dari Harian Bisnis Bali, bahwa jumlah wisman (wisatawan mancanegara) yang menyeberang semakin berkurang. Pada hari biasa, jumlah wisman yang menyeberang lebih dari 1.000 orang. Dalam sehari yang menyeberang dari Padangbai ke Trawangan kurang dari 100 orang. “Sehari yang menyeberang paling 50 orang,” kata Tokoh Pemuda Padangbai Karangasem, Yuyun seperti dilansir dari Harian Bisnis Bali.

Hal yang sama juga diungkapkan pelaku pariwisata di Gili Trawangan, Dino SA yang merasakan berkurangnya jumlah kunjungan beberapa hari terakhir. Ia mengatakan bahwa selama erupsi, tingkat kunjungan wisatawan di Trawangan mengalami penurunan. Jalanan di Trawangan dan wisatawan di pantai juga terlihat lengang. Ini karena kunjungan wisatawan tidak banyak. “Semoga ini tidak berlangsung lama. Jadi kunjungan wisatawan bisa normal. Baik yang datang dari Bangsal, Teluk Nare atau yang datang dari Padangbai,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, setiap harinya setidaknya ada 1.500 orang wisatawan mancanegara yang masuk ke kawasan tiga gili itu. Paling banyak masuk ke Gili Trawangan. Total kunjungan wisatawan ke kawasan tiga gili setiap harinya mencapai 2.600 orang. Termasuk wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Sementara jumlah kunjungan terbanyak masih didominasi oleh Gili Trawangan.

Ia mengatakan bahwa ini sudah menandakan bahwa pariwisata NTB masih sangat bergantung pada Bali. Ia berharap ke depan akan semakin banyak penerbangan langsung ke Lombok. Sehingga wisatawan yang berkunjung ke Lombok tidak perlu melalui Bali. Ini juga sekaligus mempermudah akses wisatawan untuk menjangkau Lombok. (Linggauni)

Share:

Pokdarwis Besasakan Kotaraja Kecamatan Sikur Dikukuhkan

Pengukuhan Pokdarwis Besasakan Desa Kotaraja Kecamatan Sikur bertempat di Aula Kantor Desa Kotaraja, Senin (27/11/2017).

Kabupaten Lombok Timur (Lotim) merupakan salah satu daerah yang kaya akan potensi objek wisata, baik pegunung, pantai, alam dan lainnya. Namun, potensi ini belum dikelola secara maksimal. Untuk memaksimalkan pengembangan potensi pariwisata, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang sudah tersebar di sejumlah desa di Lotim diharapkan lebih aktif berperan.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Pemasaran pada Dinas Pariwisata (Dispar) Lotim, Hasbi, SE, saat acara pengukuhan Pokdarwis Besasakan Desa Kotaraja Kecamatan Sikur, Senin (27/11/2017).

Diakuinya, masyarakat Desa Kotaraja sangat menjaga etika, tingkah laku dan tutur kata. Hal itu menjadi salah satu aset pariwisata Lotim yang harus dikembangkan dan dipertahankan. Misalnya, dengan sikap dan etika yang baik, akan mampu meninggalkan kesan yang baik kepada tamu, termasuk para wisatawan.

Untuk itu, perlu dilakukan penguatan akar-akar budaya. Di mana dalam penguatan akar budaya itu perlu sinergitas antara semua pihak terkait, baik antara pemerintah daerah dengan pemerintah desa, Pokdarwis maupun denga masyarakat. "Orang pariwisata tidak bisa bekerja sendiri. Melainkan harus saling membantu dan bekerjasama. Keberadaan stakeholder sangat dibutuhkan, termasuk Pokdarwis untuk mendukung perkembangan pariwisata di Lotim," terangnya.

Dengan sinergitas yang baik itu, lanjut dia, maka tujuan dalam pengembangan pariwisata di Lotin dapat terlaksana dengan baik. Menurutnya, pariwisata merupakan harapan sumber pendapat negara nomor tiga setelah gas dan sawit. Dengan demikian, sangat penting potensi pariwisata dikelola dengan baik yang tentunya terlebih dahulu harus menyatukan pemikiran.

Adapun bukti keseriusan Pemda Lotim, di bawah kepemimpinan Bupati Lotim, H. Moch Ali Bin Dachlan dan Wakil Bupati Lotim, H. Haerul Warisin, di mana keduanya memiliki komitmen yang tinggi untuk mengembangkan pariwisata di Lotim. Seperti akan dibangunnya Ancol Mini bertempat di Labuhan Haji dengan anggaran miliaran.

Sementara, Kades Kotaraja, Lalu Supiandi, menjelaskan, pembentukan Pokdwaris Besasakan Desa Kotaraja berasal dari kemauan masyarakat Kotaraja, karena situasi dan kondisi di Desa Kotaraja sangat memprihatinkan. Dalam pembentukannya ini, katanya, Pokdarwis Kotaraja membutuhkan dana, membutuhkan support anggaran dari pemerintah.

Sedangkan, Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM, H. Lalu Wirabhakti, menyanjung pemberian nama Besasakan pada Pokdarwis Desa Kotaraja. Pada kesempatan itu, ia mengimbau kepada Disbudpar suapaya tetap melakukan Jambore Pokdarwis yang disertai dengan dukungan dana, sehingga pembinaan adat, budaya bisa maksimal. (Yoni Ariadi/Lombok Timur)
Share:

Perang Topat, Perang yang Ditunggu-tunggu Masyarakat Lingsar Lombok Barat


Wagub NTB H. Muh. Amin, Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid melempar topat sebagai tanda Perang Topat dimulai

Wakil Gubernur NTB H. Muh Amin, SH., M.Si membuka secara resmi tradisi budaya perang topat di Pura Lingsar, Lombok Barat, minggu sore (3/12/2017).

Pembukaan Perang Topat ditandai dengan pelepasan beberapa ekor merpati oleh Wagub bersama Bupati Lombok Barat dan dilanjutkan dengan pelemparan topat pertama oleh wagub.
Wagub H. Muh. Amin, Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid bersama penari di Perang Topat

Di hadapan para tokoh adat, budayawan, ulama dan ribuan masyarakat yang mengikuti tradisi tersebut,  Wagub Muh. Amin menjelaskan bahwa perang topat adalah perang yang tidak akan pernah ada rasa menang dan kalah. Didalam peperangan itulah akan menghasilkan kedamaian. "Ini adalah salah satu contoh keunikan dan kekayaan budaya daerah kita yang memiliki makna mendalam dalam memupuk kebersamaan di tengah kebhinekaan negeri ini," jelasnya

Ia berharap event budaya perang topat yang unik dan  indah ini, terus dijaga dan dilestarikan. Perang topat merupakan suatu fakta sejarah bahwa kita hidup ditengah keanekaragaman yang begitu indah.

Menurutnya, ke depan seni budaya perang topat dapat menjadi salah satu tradisi budaya NTB yang mendorong perhatian wisatawan, sehingga NTB semakin kokoh menjadi destinasi berkelas dunia. "Bila dikemas dengan baik tradisi perang topat akan menumbuhkembangkan ekonomi kreatif yang bisa mendatangkan para wisatawan dan tentu akan berdampak lebih besar bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan menurukan angka kemiskinan sebagai salah satu program pemerintah,” pungkas Wagub.
Persembahan tarik batek baris di Perang Topat Lingsar

Dalam kesempatan yang sama, H. Fauzan Khalid, menjelaskan bahwa perang topat adalah perang yang dilaksanakan dengan penuh kegembiraan yang dilakukan oleh dua unsur agama dan suku. Tempat berperang topat ini juga menceriminkan terpeliharanya dua budaya dari golongan muslim dengan suku sasaknya dan hindu dengan suku balinya . "Jangan bapak ibu pernah berharap di Bali akan menemukan pura yang di dalamnya terdapat Kemaliq (seperti musala). Pada dasarnya setiap pura yang ada di Kabupaten Lombok Barat itu sebenarnya harus ada Kemaliq. Dan ini sudah dicontohkan di Pura Lingsar ini," ujar Fauzan Khalid.

Ditambahkan pula bahwa keunikan pura di Lombok Barat ini betul-betul mencerminkan toleransi dan nilai kebhinekaan yang terpelihara dan menjadi nafas masyarakat Kabupaten Lombok Barat khusunya di Lingsar.

Bawa dulang topat di acara Perang Topat di Pura Lingsar Lombok Barat


Sebelumnya Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat Ispan Junaidi dalam laporannya menjelaskan bahwa prosesi perang topat adalah prosesi religi dan budaya yang setiap tahun rutin dilaksanakan sebagai kalender of event di Kabupaten Lombok Barat. Perang topat adalah satu-satunya perang di dunia yang membawa kedamaian. Semoga dari Desa Lingsar ini terwujud sebuah prosesi budaya, sebuah refleksi keharmonisan dan kedamaian di muka bumi dan mudah-mudahan akan menjadi sebuah legenda bagi seluruh umat yang beraneka ragam budaya dan dengan keyakinannya yang berbeda - beda. (Humas NTB)

Share:

Definition List