Friday, December 29, 2017

Dampak Erupsi Gunung Agung Bali, NTB Berharap Dana Recovery 10 Persen dari Bali

Salah satu objek wisata di Pulau Sumbawa, Jembatan Polak. Kunjungan wisatawan ke NTB, termasuk ke Sumbawa sempat menurun akibat erupsi Gunung Agung Bali. NTB mengharapkan ada dana recovery 10 persen dari Bali 

Erupsi Gunung Agung di Bali diyakini menjadi salah satu penyebab berkurangnya kunjungan wisatawan selama dua bulan terakhir. Terutama wisatawan mancanegara yang biasanya banyak datang dari Bali. Pemda NTB melalui Dispar NTB berharap bisa mendapatkan dana recovery paling tidak sebanyak Rp 10 miliar atau 10 persen dari dana recovery untuk Provinsi  Bali.

"Pemerintah tidak bisa menutup mata, bahwa NTB ini satu paket dengan Bali. Sehingga saat terjadi erupsi, kunjungan ke NTB juga menurun drastis. Kita berharap bisa dapatkan dana recovery paling tidak 10 persen dari Bali," kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB H.L.Moh Faozal, S.Sos.,M.Si, di Mataram, Rabu (27/12/2017).

Ia mengatakan bahwa dampak erupsi Gunung Agung di Bali sangat terasa bagi pariwisata di NTB. Ia juga melihat anggaraan Rp 10 miliar itu tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan Bali yang mendapatkan anggaran Rp 100 miliar. Ini juga berkaitan dengan sebaran promosi yang berbeda dari Lombok.

“Ya tidak sebesar Bali lah dana recovery yang kita butuhkan. Karena mungkin Bali kan sudah kemana-mana, jangkauan promosi mereka lebih luas. Jadi paling tidak kita diberikan 10 persen dari Bali, saya rasa itu cukup,” ujarnya.

Ia berharap Pemerintah Pusat juga memikirkan kondisi Lombok yang belakangan tidak banyak wisatawan yang berkunjung. Meskipun saat ini ada, namun jumlahnya tidak sebanyak pada saat libur panjang tahun lalu dan libur panjang sebelum terjadi erupsi.

“Kalau libur panjang kan biasanya banyak yang datang, akibat erupsi kemarin itu tidak terlalu banyak. Kita butuh promosi lebih gencar lagi,” ujarnya.

Dana Rp 10 miliar itu nantinya akan digunakan untuk melakukan promosi, peningkatan kualitas dan pembenahan destinasi. Sebab itu adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh NTB setelah erupsi terjadi. Apalagi hingga saat ini status Gunung Agung masih dalam kondisi awas. Beberapa Negara sudah mengeluarkan travel advisor kepada warganya.

“Semoga tahun depan bisa lebih baik, dan Gunung Agung segera kembali normal. Kita terus berupaya agar wisatawan tetap banyak yang datang berkunjung. Kami juga sangat berharap agar media terus membantu kami untuk mengabarkan kepada calon wisatawan bahwa Lombok dan Sumbawa aman untuk dikunjungi,” ujarnya. (Linggauni/Suara NTB)


Share:

Bangko-Bangko, Objek Wisata Perawan di Selatan Lombok Barat

Beberapa nelayan tengah menepikan perahunya di Pantai Bangko-Bangko Lombok Barat Nusa Tenggara Barat yang masih perawan
Kabupaten Lombok Barat memiliki banyak pantai. Tidak saja Senggigi, namun banyak pantai lain yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi. Salah satunya Pantai Bangko-Bangko. 

Pantai Bangko-Bangko terletak di Desa Batu Putih, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Berjarak 70 kilometer dari Kota Mataram, butuh waktu hingga dua jam perjalanan dari Kota Mataram untuk mencapainya menggunakan transportasi darat.

Selama perjalanan, pemandangan luar biasa tentu memanjakan mata. Setelah dari Lembar wisatawan akan diberi pilihan melalui perjalanan lewat atas yang berbukit atau bawah menyusuri pantai.

"Memang agak jauh tapi tempatnya bagus," kata wisatawan asal Kota Mataram Lily Ariyanti, Kamis (28/12/2017).

Ketika memasuki kawasan Taman Wisata Alam Bangko-Bangko, wisatawan harus melewati jalan yang cukup panjang. Sehingga disarankan agar menggunakan kendaraan dengan kondisi baik dan bahan bakar yang mencukupi. 

Ketika sampai di Pantai Bangko-Bangko, wisatawan akan disuguhkan dengan suasana yang asri dan aroma pedesaan masih kental di tempat ini. Wisatawan bisa menikmati waktu dengan bersantai sejenak. 

Di Bangko Bangko sendiri terdapat dua lokasi wisata. Pertama adalah Pantai Bangko Bangko dan kedua Pemalikan yang disebut-sebut sebagai salah satu spot berselancar terbaik di dunia. "Katanya di sana banyak bule yang berselancar karena ombaknya yang bagus," ujarnya. 

Penampakan pesisir Pantai Bangko Bangko memang indah. Tidak terlalu banyak wisatawan yang berkunjung ke pantai ini. Namun banyak nelayan yang menepikan perahunya setelah melaut di pinggir pantai. 

Pantai dengan pasir putih ini memiliki air jernih dan terlihat rumput laut dari kedalaman. Dikelilingi perbukitan khas pantai membuat suasana semakin bersahabat.

"Kalau ke Bangko-Bangko kita  bisa menikmati aneka hidangan seafood. Banyak yang jualan di dekat jalan," ujarnya. (Linggauni/Suara NTB) 
Share:

Wednesday, December 27, 2017

Gua Liang Petang, Gua Penuh Misteri di Sumbawa

Gua Liang Petang Sumbawa yang penuh misteri (istimewa)

Gua Liang Petang merupakan gua unik yang diyakini memiliki banyak misteri. Namun gua ini belakangan semakin sering dikunjungi wisatawan karena keunikan dan keindahannya. Gua ini terletak di punggung sebuah gunung dalam hutan yang berlokasi cukup jauh dari Desa Batu Tering Kecamatan Moyo Hulu Kabupaten Sumbawa.

Untuk menuju lokasi, pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda dua dari desa Batu Tering, kemudian berjalan kaki melewati sebuah sungai kecil bernama tou sekat yang berarti sungai yang sempit. Karena diapit oleh tebing batu cadas, airnya berwarna hijau berkilau membuat siapa saja ingin mandi dan menikmati kesegarannya. Setelah itu barulah pengunjung harus menembus hutan selama kurang lebih 25 menit untuk sampai di pintu gua.

"Saya pernah ke sana sekali dan tempatnya bagus. Cocok bagi wisatawan yang menyukai tantangan," kata warga Sumbawa Muhammad Nur, di Mataram, Selasa (26/12/2017).

Ia mengatakan bahwa gua ini memang sangat gelap. Sehingga sesuai dengan namanya yaitu Liang Petang yang bisa saja diartikan sebagai gua malam. Mulut gua tidak terlalu besar, untuk memasukinya pengunjung harus melewati sebuah titian kecil yang terbuat dari beberapa batang kayu. Ruangan didalam gua cukup luas, berbagai keunikan mulai tampak ketika wisatawan berada di dalamnya. Bentuk- bentuk stalagnit yang menempel di langit-langit gua menambah kesan yang indah.

Hal menarik yang akan dilihat adalah batu mayat. Entah terbentuk karena proses alam atau memang ada unsur sejarahnya, yang jelas ini adalah batu yang menyerupai jasad dua orang manusia terbaring berdampingan di bawah langit-langit gua. Meski saat ini bentuknya sudah tampak kurang jelas karena tidak terawat karena mulai terkikis oleh air dari dalam gua. "Itu perjalanan yang cukup berkesan. Karena tidak banyak juga orang yang datang," ujarnya.

Di ruang lainnya terdapat sebuah tempat khusus untuk bertapa, dan yang satu ini adalah peninggalan para leluhur yang konon sempat bertempat tinggal di dalam gua ini. Berdasarkan cerita rakyat di Batu Tering, bahwa zaman dahulu, pernah ada seorang ulama dan beberapa pengikutnya yang hidup di dalam gua Liang Petang.

Tidak jauh dari ruang pertapaan, ada sebuah kolam kecil dari mata air. Dahulu kala masyarakat lokal bisanya datang ke tempat ini untuk sekedar membayar nazar. Tidak jauh dari sana terdapat mata air dan sebuah batang bambu melintang di dinding gua. Batang bambu tersebut digunakan sebagai alat bantu untuk menuju ke sebuah ruangan lainnya yang berada cukup tinggi dari lantai gua. Tempat tersebut oleh penduduk lokal disebut Alang. Konon di atas sana terdapat beberapa peninggalan unik. Menurut cerita rakyat lokal di sana, di Alang Gua Liang Petang pengunjung bisa melihat patung perempuan yang sedang menenun.

"Tapi saya tidak sempat ke sana karena waktu itu saya sudah sangat lelah," ujarnya. Ini merupakan salah satu destinasi wisata baru di Sumbawa yang bisa dikunjungi oleh wisatawan pecinta minat khusus. Karena selain tempatnya yang bagus, di sepanjang perjalanan wisatawan bisa menikmati dengan pemandangan yang indah. (Linggauni/Suara NTB)
Share:

Tuesday, December 26, 2017

Daki Rinjani, TNGR Terapkan Tiket Daring

Pemandangan di Gunung Rinjani yang selalu membuat wisatawan ingin berkunjung kembali. Mulai tahun 2018, pendakian ke Gunung Rinjani akan menggunakan tiket daring. 
Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) semakin banyak dikunjungi wisatawan. Persoalan sampah di gunung ini juga belum dapat terselesaikan. Untuk membatasi jumlah pendaki, Balai TNGR akan memberlakukan pemesanan tiket secara online. Sehingga apabila pemesanan tiket pada hari itu sudah mencapai batas kuota, yang bersangkutan tidak bisa mendaftar untuk mendaki pada hari itu juga.

Sebelumnya, Kepala BTNGR Agus Budi Santosa mengatakan bahwa pihaknya berupaya untuk mengatur pendakian Rinjani dengan lebih baik. Salah satunya dengan memberlakukan pemesanan tiket secara online. Ini juga  bisa memberikan data yang pasti tentang kunjungan wisatawan, baik setiap harinya atau setiap bulannya.

Ia mengatakan bahwa pendaftaran melalui daring ini juga bertujuan untuk membatasi jumlah pendaki dalam sehari. Saat jumlah pendaki sudah penuh pada hari itu, ia menyarankan agar wisatawan mendaftar pada keesokan harinya. Sehingga bisa memenuhi kuota pada hari berikutnya.

Ia berharap dengan adanya pembatasan jumlah pendakian ini dapat mengurangi volume sampah. Selain itu, Rinjani tidak sesak dengan banyaknya orang yang datang. Ini juga berkaitan dengan pelestarian kawasan taman nasional.

“Kami memang melakukan penutupan setiap tahunnya guna untuk pelestarian dan perawatan. Selain itu, dengan luas TNGR yang sekian juga harus dibatasi berapa pendaki. Ini juga yang menjadi catatan,” ujarnya.

Ia berharap pemberlakuan tiket online ini dapat berjalan dengan baik. Sehingga selain pembatasan pendaki, ini juga dapat memberikan kesan nyaman bagi wisatawan. Sebab jika pendakian terlalu ramai, wisatawan bisa saja merasa tidak atau kurang nyaman.

“Kami berharap pendaki atau wisatawan bisa menikmati keindahan Rinjani dengan nyaman. Pemberlakukan tiket online ini akan benar-benar diterapkan secara resmi tahun depan. Tahun ini masih tahap sosialisasi,” ujarnya.

Diketahui, bahwa pada tanggal 1 Januari hingga 31 Maret mendatang akan dilakukan penutupan pendakian Rinjani. Hal ini bertujuan untuk pemeliharaan, sehingga kawasan TNGR bisa tetap asri dan lestari. Penutupan ini juga sudah diumumkan berdasarkan surat edaran  Nomor PG.R131/T39/TU/HMS/12/2017.

Dalam surat itu disebutkan bahwa untuk mempertimbangkan kondisi cuaca guna kepentingan pemulihan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani khususnya pada jalur pendakian. Maka dalam tiga bulan pendakian Rinjani ditutup untuk umum. Wisatawan, baik yang menggunakan jasa trekking organizer maupun mandiri tidak diperkenankan untuk mendaki dalam kondisi apapun. (Linggauni/Suara NTB)
Share:

Sili Maci Beach, The Best Surfing Location in West Nusa Tenggara

Pantai Sili Maci yang menjadi salah satu spot berselancar terbaik di NTB. (istimewa)

Pantai Sili Maci merupakan salah satu pantai yang berada di perbatasan antara Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Dompu. Pantai ini kerapkali dijadikan sebagai spot berselancar bagi wisatawan yang menyukai salah satu olahraga air ini.

Atraksi para peselancar ini juga menjadi salah satu pemandangan yang dapat disaksikan saat berkunjung. Sehingga, bagi wisatawan yang tidak bisa menghabiskan waktunya dengan berselancar bisa menyaksikan berbagai atraksi para peselancar di pantai ini.

Pantai ini berada di Kecamatan Tarano. Sili Maci sebenarnya adalah nama dua pantai yaitu Pantai Maci dan Pantai Sili. Karena letaknya berdekatan sehingga sering digabungkan. Bahkan kabarnya pantai yang telah menjadi aset wisata ini memiliki ombak terbaik ke tiga di dunia setelah Hawaii dan Tahiti.

“Iya banyak wisatawan yang suka berselancar ke Pantai Sili dan Maci. Karena pantainya memang bagus dan ombaknya juga lumayan bagus untuk para peselancar,” kata Pelaku Pariwisata asal Dompu A. Indra Mauluddin.

Kedua pantai ini  dapat ditempuh melalui darat dengan perjalanan 6 jam dari Kota Sumbawa Besar. Kedua pantai ini sangat terkenal sebagai tempat berselancar, dan setiap tahun bersama-sama dengan Kabupaten Dompu mengadakan perlombaan berselancar tingkat dunia. Di perairan Pantai Maci di Kecamatan Tarano yang berjarak sekitar 140 kilometer dari Sumbawa Besar terdapat ombak super barel yang merupakan salah satu dari tiga jenis gelombang di dunia yang cocok untuk olah raga selancar atau surfing.

“Itulah nama ombak yang mereka beri nama ombak super barel. Katanya sih itu ombak yang bagus dan idaman para peselancar,” ujarnya.

Gelombang tinggi di Pantai Maci  ini bisa digunakan sebagai tempat olah raga surfing atau berselancar, tetapi hanya bisa selama tujuh bulan  yaitu mulai  Bulan Mei sampai dengan Bulan November dan puncak ombaknya yaitu pada Bulan Agustus. Sehingga wisatawan disarankan untuk berkunjung pada bulan-bulan itu untuk dapat menikmati gelombang yang bagus untuk para peselancar.

Pantai ini memang letaknya cukup jauh dari Lombok. Sebab selama ini banyak wisatawan yang menjadikan Lombok sebagai destinasi wisata utama dan dikombinasikan dengan destinasi lain di sekitarnya. Hal ini pula yang membuat pantai ini tidak terlalu banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Apalagi aksesnya yang terbilang cukup rumit bagi pendatang.

“Saya berharap ke depannya akses ke Pulau Sumbawa bisa lebih mudah. Penerbangan diperbanyak lagi dan promosi pariwisata lebih masif lagi dilakukan khusus untuk Sumbawa. Jadi potensi wisata yang kita punya itu bisa dikelola secara maksimal,” harapnya. (Linggauni/Suara NTB)




Share:

Friday, December 22, 2017

Pantai Kaliantan Pantai Legenda Bau Nyale di Lombok Timur

Pantai Kaliantan di Kabupaten Lombok Timur yang masih perawan.
Pantai Kaliantan merupakan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Lombok Timur. Pada Bulan Februari, wisatawan juga bisa melakukan Bau Nyale, karena selain di Pantai Seger Lombok Tengah, Pantai Kaliantan Lombok Timur juga menjadi spot Bau Nyale. Wisatawan dapat menikmati panorama di pantai ini dengan nyaman.

Pantai yang terletak di Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur ini sering disebut sebagai pantai perawan. Julukan ini diperoleh Pantai Kaliantan karena suasana sepi dan sunyi pantai jauh dari keramaian pelancong. Buat kalian yang suka memburu suasana pantai nan tenang dan alami, pantai ini sudah pasti jadi surga bagi pecinta wisata yang tidak terlalu ramai.

Pantai ini bisa dijangkau selama 2 jam perjalanan dari Kota Mataram. Dengan rute Mataram – Praya – Jerowaru – Pemongkong – Kaliantan. Menggunakan GPS akan sangat membantu dalam menemukan pantai ini, terlebih sepanjang perjalanan tidak ditemui papan petunjuk arah. Bertanya arah kepada penduduk lokal juga sangat disarankan untuk lebih mempermudah perjalanan. Jangan lupa bawalah bekal makanan dan minuman, karena di sini tidak ada penjual makanan dan minuman.
“Seperti pantai milik sendiri, saya suka ke Pantai Kaliantan. Pantainya juga tenang,” kata wisatawan asal Bandung Arif, Rabu (20/12/2017).

Kaliantan memiliki pasir bertekstur mirip merica yang unik. Pasir putihnya berpadu apik dengan air laut berwarna biru jernih. Sangat cocok dijadikan sebagai spot untuk mengambil gambar. Apalagi tidak banyak wisatawan yang datang, sehingga pantai ini bisa dinikmati sepuas-puasnya.

“Mau ambil gambar dari sisi mana saja pasti bagus. Karena tidak ada orang di sekeliling, jadi landscape pantai bisa terlihat semua tanpa ada gangguan pada gambar,” ujarnya.

Ia berharap fasilitas di destinasi ini bisa dilengkapi. Sehingga wisatawan bisa merasa lebih nyaman saat berkunjung. Apalagi pantai ini merupakan destinasi yang sangat potensial untuk mendatangkan banyak wisatawan. (Linggauni Suara NTB)

Share:

Wednesday, December 20, 2017

Mencari ''Selendang'' di Air Terjun Dewi Selendang Lombok Timur


 
Air terjun Dewi Selendang di Sembalun Lombok Timur (istimewa)
Sembalun merupakan salah satu destinasi yang semakin banyak dikunjungi wisatawan. Keindahannya tidak hanya pada lembah atau Rinjani saja, di sekitarnya juga banyak destinasi. Salah satunya Air Terjun Dewi Selendang yang dapat memukau pengunjung yang datang.

Memiliki pola aliran air yang meliuk bak bentang selendang membuatnya menjadi spot berfoto yang bagus. Setelah melewati kelokan, air tersebut akhirnya akan memecah arah untuk jatuh di dua pancuran berbeda. Lalu, kolam kecil di bawahnya siap dijadikan sebagai tempat untuk berendam. Apalagi airnya sangat sejuk dan pemandangannya juga sangat indah.

“Saya rasa air terjun ini menjadi spot foto yang menarik. Kalau yang mau foto instagramable, di sinilah tempatnya,” kata wisatawan asal Kota Mataram Ahmad Hariyadi, Sabtu (16/12/2017).

Tak semata tersusun atas pesona tunggal, keelokan tempat ini pun didukung panorama di sekitar air terjun. Bebat belukar di kanan-kiri, serta bebatuan dengan susunan acak siap memanjakan mata selama menghabiskan waktu di Air terjun Dewi Selendang. “Kalau mau mandi juga bagus. Airnya dingin, jadi segar kalau mandi. Pemandangannya juga indah di sekelilingnya,” ujarnya.

Air terjun ini berada di Desa Bilok Petung Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur. Wisatawan yang datang bisa menikmati wisata secara komplet. Sebab tidak hanya dapat menikmati keindahan lembah Sembalun, namun wisatawan juga dapat menikmati berbagai destinasi yang ada di sekitarnya, salah satunya air terjun ini.

Dari Kota Mataram, wisatawan dapat mengjangkau air terjun ini melalui Lombok Timur dan melalui Lombok Utara. Jika melalui jalur Lombok Utara maka akan melalui sepanjang Jalan Pantai Senggigi – Pemenang – Tanjung – Gangga – Kayangan – Bayan – Kokok Putik. Sedangkan jika melalui jalur Lombok Timur maka anda akan melalui Narmada – Mantang - dan seterusnya hingga sampai di Aikmel (ambil jalur lurus menuju Suela/Sembalun) – Suela hingga sampai di Pertigaan Kokok Putik. 

Sesampai di pertigaan Kokok Putik, ambil arah belok kiri dan berhentilah di ujung jembatan Kokok Putik sebab jalur masuk ke lokasi Air Terjun tersebut berada di ujung jembatan Kokok Putik.

“Kalau sudah sampai Sembalun bisa tanya-tanya sama orang di sana. Mereka rata-rata sudah tahu dan akan member tahu jalan dan lokasinya,” ujarnya. (Linggauni Suara NTB) 
Share:

Menikmati Little Africa di Savana Piong Dompu

Mau Nikmati Little Africa di Indonesia, datanglah ke Savana Piong Dompu NTB

Jika berkunjung ke Dompu wisatawan merasa sudah terbiasa dengan suasana pantai, Savana Piong bisa menjadi alternatif destinasi. Tempatnya yang tenang dengan suasana yang asik membuat wisatawan bisa merasa betah dan berlama-lama menikmati keindahan di savana ini.

Sebuah gerbang bertuliskan jalur pendakian Gunung Tambora Piong menandakan wisatawan sudah masuk di pelataran Padang Savana. Dengan latar Gunung Tambora di sebelah barat dan indahnya Doro Tabe di bawah lerengnya semakin membuat harmoni lukisan alam Tambora sangat menjadi lebih indah.

Melihat tempat ini seperti membawa imajinasi bersafari di alam Afrika, hanya saja tidak ada Jerapah maupun Zebra. Warga sekitar menyebutnya little Africa karena savana seperti ini tidak banyak ditemukan di NTB.

“Kalau ke Dompu jangan hanya ke pantai, tapi berkunjung juga kesini (Savana Piong). Memang tidak banyak yang tahu, tapi saya jamin kalau sudah kesini bisa merasakan sensasi seperti berlibur di Afrika,” kata warga Dompu Indra Mauluddin, Selasa (19/12/2017).

Dari Kota Bima, wisatawan bisa menempuh perjalanan selama satu jam menuju Savana Piong di Dompu.  Savana Piong Ini merupakan salah satu jalur pendakian Gunung Tambora. Namun wisatawan dengan mudah bisa menjangkau savana ini karena letaknya yang tidak jauh. Selain itu savana ini juga dapat dijangkau dengan kendaraan.

“Memang itu jalur pendakian ke Tambora. Tapi wisatawan juga bisa menikmati keindahannya karena bisa dijangkau dengan kendaraan,” ujarnya.

Hanya saja, destinasi ini masih kurang promosi. Sehingga tidak banyak wisatawan yang tahu. Padahal keidahan atau pemandangan yang ditawarkan tidak kalah menarik dari destinasi wisata lainnya di Dompu, bahkan di NTB. “Memang tidak pernah dipromosikan. Sementara yang datang orang lokal saja. Saya rasa kalau ini dipromosikan bisa saja banyak yang berkunjung. Karena pemandangannya yang indah,” ujarnya.

Ia mengajak wisatawan untuk menikmati keindahan savana Piong di Dompu. Ia juga menawarkan kemudahan untuk menjangkau destinasi ini. Selain itu, ia juga berharap Pemda mau mempromosikan Piong sebagai destinasi wisata. Sehingga banyak wisatawan yang bisa datang berkunjung. (Linggauni Suara NTB)

Share:

Monday, December 18, 2017

Angkat Pantai Meninting Lewat Festival ‘'Bekele’' Ikan Tongkol

 
Festival Bekele atau Makan Ikan Tongkol di Pantai Meninting Lombok Barat, Minggu (17/12/2017)
 Pemerintah Desa Meninting Kecamatan Batulayar Lombok Barat (Lobar) menggelar Festival Bekele (makan) ikan tongkol, Minggu (17/12/2017). Kegiatan yang merupakan acara tasyukuran setahun jabatan Kades Meninting Iskandar Zulkarnain tersebut dijejali pengunjung. Sebab di samping festival ini, , pemdes juga mengadakan lomba dayung kano.

Ratusan warga Desa Meninting Kecamatan Batu Layar berjubel di Pantai Meninting. Mereka ikut meramaikan festival bekele tongkol di pinggir Pantai Meninting. Sementara untuk acara lomba kano, tidak hanya orang dewasa, melainkan juga diramaikan oleh kalangan anak-anak kecil yang memang sudah mahir bermain kano.

Kepala Desa Meninting H. Iskandar Zulkarnain dalam kesempatan itu mengatakan bahwa digelarnya festival bekele tongkol ini merupakan bentuk rasa syukur dirinya dan Pemerintah Desa Meninting. “Acara ini adalah bentuk syukur kami di desa, bahwa saat ini sudah satu tahun kami menjadi kepala desa,” katanya.

Namun syukuran masa jabatannya itu bukanlah hal yang utama. Justru menurut dia, festival tersebut merupakan pesta rakyat yang nampaknya sangat cocok untuk dilakukan. Bahkan ke depan, dia berencana akan menjadikan festival ini menjadi agenda rutin Pemerintah Desa Meninting. “Tahun depan kita akan adakan kembali dengan lebih tertata dan meriah, sehingga bisa juga dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar,” katanya.

Untuk itu, dia pun berpesan kepada masyarakatnya untuk tetap menjaga kebersihan pantai. Menurutnya, jika pantai bersih, maka wisatawan akan sangat senang berkunjung baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara. “Dan lagi-lagi hasilnya bisa kita nikmati bersama. Kami akan upayakan ini menjadi agenda tahunan Desa Meninting,” tegasnya kemudian.

Sementara itu warga yang hadir dalam acara tersebut merasa sangat senang. Bahkan warga berharap agar kegiatan semacam itu bisa diadakan setiap pekan, sehingga Pantai Meninting selalu ramai. Dengan begitu, pantai Meninting bisa menjadi objek wisata baru selain Senggigi. “Kalau bisa diadakan setiap minggu, jadi warga bisa menikmati liburan dan tentunya ikan tongkol gratis,” kata salah seorang warga.

Selain acara bekele 500 ekor ikan tongkol dan lomba kano, warga juga dihibur oleh artis lokal yang sudah cukup dikenal yaitu Arie Juliant yang merupakan warga Meninting. Ia sudah cukup malang melintang di dunia musik.  (Heru Zubaidi/Lombok Barat)
Share:

Thursday, December 14, 2017

Sensasi Panorama Sarae Nduha yang Menawan di Dompu

Sarae Nduha Dompu yang menawan. ( foto istimewa)

Kabupaten Dompu memiliki banyak destinasi wisata yang dapat dikunjungi wisatawan. Salah satunya Pantai Sarae Nduha atau biasa disebut sebagai Pantai Ombo. Pantai ini tidak jauh dari Doro Ncanga atau Gunung Tambora. Banyak wisatawan lokal yang berkunjung, terutama pada saat akhir pekan. Pantai ini memang belum dirpomosikan sebagai destinasi yang direkomendasikan oleh pemda. Sehingga wisatawan dari luar masih terbilang sedikit kunjungan.

Pantai ini terletak di Desa Doropeti Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu dan belakangan menjadi destinasi utama wisatawan lokal. Lokasinya pun sangat mudah dijangkau. Apalagi pemandangannya sangat indah dan akan memanjakan siapa saja yang datang. Pantai ini juga dikelilingi oleh tebing. Di atasnya wisatawan dapat mendirikan tenda. Sangat cocok dijadikan sebagai destinasi untuk berlibur bersama keluarga.

Warga Dompu sangat merekomendasikan wisatawan untuk berkunjung ke pantai ini. Karena pantai ini memiliki panorama yang indah dan sangat cocok dijadikan sebagai spot swafoto. Pantai berpasir putih ini juga memiliki batu bolong. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri untuk mengambil gambar. Selain itu, ombak yang menantang juga menjadi hal yang menarik untuk dicoba oleh para peselancar. Selain Lakey, wisatawan juga bisa berselancar di pantai ini. Karena ombaknya juga cocok untuk dinikmati oleh para peselancar.

Pantai ini juga cocok dijadikan sebagai tempat berolahraga atau outbond. Karena mamiliki bukit yang lapang. Ini juga sangat indah, seperti bukit teletubies. Tidak heran jika banyak wisatawan yang memilih pantai ini sebagai lokasi untuk menghabiskan akhir pekannya.

Di pantai ini juga terdapat ayunan yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan untuk menikmati pemadangan Pantai Sarae Nduha. Wisatawan juga dapat menikmati pemandangan dengan santai karena pantai ini terbilang cukup bersih. Hanya saja memang masih kurang fasilitas pendukung lainnya, misalnya mushola. Memang masih perlu dilengkapi fasilitasnya seperti toilet dan mushola. Kalaupun sudah ada, harus diperhatikan airnya. Jangan sampai bangun toilet tapi tidak ada air.(Linggauni Suara NTB)

Panorama di sekitar pantai Sarae Nduha yang ada di Kabupaten Dompu.
Share:

Pesta Rakyat Kara-Kara Digelar di Pantai Lariti Februari 2018

Pantai Lariti Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat

Pantai Lariti merupakan salah satu destinasi wisata di Bima yang belakangan semakin banyak dikunjungi. Tahun depan akan dilakukan pesta rakyat bertajuk Kara-kara di pantai ini. Hal ini merupakan salah satu upaya Pemkab Bima dalam mempromosikan potensi wisata di daerahnya.

“Tahun 2018 pada Bulan Februari kita akan adakan pesta rakyat Kara-kara. Karena di Pantai Lariti ada mitos seorang ibu yang sangat mencintai anaknya tapi sudah tidak bisa mendidiknya. Akhirnya sang ibu mengorbankan diri, inilah yang disebut Kara-kara,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima H. Abdul Muis melalui sambungan telepon, Selasa (12/12/2017).

Ia mengatakan bahwa pesta rakyat ini akan melibatkan seluruh elemen masyarakat di Bima, terutama yang ada di lingkar Pantai Lariti. Termasuk komunitas-komunitas sadar wisata yang ada di Bima. Sebab Pantai Lariti kini mulai dibenahi untuk menyambut lebih banyak lagi kunjungan wisatawan.

“Banyak komunitas juga yang sudah siap untuk menyukseskan kegiatan itu. Jadi kami berharap dengan adanya pesta rakyat ini keberadaan Pantai Lariti bisa diketahui oleh banyak orang,” ujarnya.

Selain itu, ia juga akan membuat Pantai Lariti sebagai persinggahan wisatawan yang akan berkunjung ke Pantai Pink. Sebab di pantai ini juga akan dibuatkan taman laut yang langsung terhubung ke hutan bakau. Sehingga wisatawan bisa menikmati sensasi berlibur ditemani pohon bakau di sekelilingnya.
“Dari Pemkab sendiri sudah berupaya untuk melengkapi berbagai fasilitas di Lariti. Seperti taman laut, jadi wisatawan yang datang bisa benar-benar menikmati waktu berliburnya,” ujarnya.

Melalui pesta rakyat Kara-kara ini diharapkan masyarakat juga bisa lebih sadar bahwa dirinya berada di kawasan destinasi wisata. Sehingga kebersihan dan keamanan bisa tetap terjaga. Sebab dua hal itulah yang menunjang kenyamanan wisatawan saat berkunjung.

“Pesta rakyat Kara-kara ini juga memiliki nilai edukasi terutama bagi keluarga. Kami juga berharap nantinya wisatawan bisa menikmati atraksi budaya yang akan disuguhkan,” ujarnya.
Sejauh ini memang tidak banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke pantai ini. namun dengan adanya pesta rakyat ini, diharapkan bisa mendongkrak angka kunjungan wisatawan. Sebab Pantai Lariti merupakan salah satu destinasi wisata andalan di Kabupaten Bima. (Linggauni Suara NTB)


Share:

Wednesday, December 13, 2017

Heningnya Pantai Tanjung Bongo Hilangkan Kejenuhan Wisatawan

Seorang wisatawan tengah menikmati keindahan Pantai Tanjung Bongo yang ada di Kabupaten Lombok Tengah. (foto istimewa)


Pantai Tanjung Bongo merupakan salah satu destinasi wisata yang ada di Kabupaten Lombok Tengah. Pesonanya tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan pantai lain yang sudah terkenal di daerah ini. Pantai ini dapat dijangkau hanya dengan berkendara kurang lebih 30 menit dari Lombok International Airport.

Tanjung Bongo dapat dijangkau dengan terlebih dahulu menyusuri pantai Tanjung Aan di bagian barat saat air laut sedang surut. Momen surutnya air laut bisa terjadi pada pagi hari atau bisa juga pada sore hari. Selain itu, kita juga bisa melewati jalur laut dengan menggunakan perahu dari Pantai Tanjung Aan. Harga sewa perahu sekitar Rp 150.000 sampai dengan Rp 350.000 tergantung jumlah penumpang.

Karena lokasi pantai yang tersembunyi, Tanjung Bongo sangat cocok dijadikan sebagai lokasi berlibur bersama pasangan atau keluarga. Pasir putih dengan batu karang yang indah serta bukit menjadi perpaduan yang sangat bagus dijadikan latar untuk foto yang indah. Jika air laut sedang surut, di pantai ini terbentuk sebuah kolam kecil yang bisa digunakan untuk berenang. Saat air laut pasang sangat tidak disarankan untuk berenang karena ombak sangat keras disebabkan posisi pantai berhadapan langsung dengan samudera Hindia.

Keadaan dan suasana di pantai ini sangat menenangkan karena jauh dari hingar-bingar, sehingga wisatawan bisa bersantai di sini. Ketika berada di pantai ini, wisatawan akan benar-benar dimanjakan dengan pemandangan yang sangat mempesona. 

Lokasi pantai ini tidak terlalu jauh dari Kota Mataram. Jaraknya sekitar 60-65 km dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam atau sekitar 30 menit dari Bandara Internasional Lombok. Tiket masuk kawasan wisata ini pun juga murah, hanya Rp 5 ribu untuk roda dua dan Rp 10 ribu untuk roda empat.  (Linggauni Suara NTB)
Share:

Beragam Pilihan Objek Wisata di Lombok Tengah

Presiden Joko Widodo terpesona dengan keindahan Pantai Kuta Lombok Tengah saat berkunjung  Oktober 2017

Kabupaten Lombok Tengah memiliki banyak potensi destinasi wisata yang dapat dikembangkan. Tidak saja Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, namun ada pula destinasi-destinasi pendukung lainnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah H. Lalu Putria mengatakan bahwa pihaknya terus mendorong untuk memaksimalkan potensi wisata yang ada. Termasuk kawasan destinasi di luar KEK Mandalika.

 “Lombok Tengah memiliki banyak destinasi wisata yang bisa dikembangkan dan bisa menjadi tujuan wisatawan. Selain berkunjung ke Mandalika, ada banyak pilihan destinasi wisata lain yang dapat dinikmati oleh wisatawan,” ujarnya.

Diketahui bahwa Kabupaten Lombok Tengah memiliki banyak potensi pariwisata yang dapat dikembangkan. Sehingga saat berkunjung, wisatawan tidak hanya dapat menikmati keindahan Mandalika. Namun juga destinasi lain yang tidak kalah menarik untuk disaksikan.

Terdapat berbagi  jenis objek wisata yang ada di Kabupaten Lombok Tengah. Objek Wisata Alam  temasuk hutan dan perairan dalam. Di antaranya Benang Stokel, Benang Kelambu dan Aik Bukak. Daya tariknya adalah Air Terjun, Outbound Area, Camping, Kolam renang dan keindahan Alam serat pengamatan flora dan fauna.

Ada pula objek wisata bahari, diantaranya Pantai Gerupuk, Pantai Awang, Pantai Aan, Pantai Seger, Pantai Kuta, Selong Belanak dan Pantai Mawi. Ada pula Pantai Tomang, Pantai Are Guling, Pantai Pengatap, Rowok, Torok Aik Belek dan Pantai Mawun. Daya Tarik dari pantai-pantai di Lombok Tengah ini  selain pasir putihnya, juga perbukitan, ombak untuk surfing, sunset, perkampungan nelayan, budi daya ikan kerapu, budi daya mutiara, pasar ikan tradisional dan terumbu karang.

Ada objek wisata alam berupa geologi dan vulkanologi. Diantranya Goa Bengkang, Goa Pengembur, Gunung Rinjani dan Batu Rijan. Gunung Rinjani sangat terkenal sebagai objek wisata. Aktivitas yang bisa dilakukan adalah Trekking, Pengamatan Flora Langka, Pengamatan Fauna langka, Photografi, memancing di danau dan bisa juga dipakai untuk wisata religi.

Objek wisata budaya peninggalan sejarah. Diantaranya Dusun Sade dan Dusun Ende yang merupakan rumah tradisional, kampung tradisional, tipologi pemukiman suku sasak, kesenian daerah dan upacara adat. Masjid Kuno Rembitan, Masjid Gunung Pujut adalah masjid kuno, tipologi Pemukiman Suku Sasak dan Upacara Agama. Makam Nyatok, Makam Ketak, Makam Serewe adalah makam Tokoh Agama Islam dan Makam Raja Pejanggik. Aktivitas wisata yang bisa dilakukan adalah belajar menenun, photografi, wisata ziarah, pengamatan upacara agama dan penelitian.

Objek wisata budaya tentang kehidupan masyarakat. Kerajinan Gerabah Penujak, Kerajinan Tenun Tradisional Sukarare, Kerajinan Anyaman Rotan atau Ketak Beleke. Aktivitas wisatanya adalah study tour, penelitian, dan berbelanja.

Objek wisata buatan seperti olahraga khusus yaitu Pacuan Kuda, Bendungan Pengga, Bendungan Batujai. Sedangkan objek wisata buatan festival khusus, yaitu Peresean, Rudat,  Oncer,  Gandrung,  Amak Abir dan Bau Nyale. Ada pula  Gendang Belek, Cilokaq, Menting Lelakaq dan Pagelaran Zikir Madani. Selain itu ada Sanggar Rinjani,  Jangger,  Ngorek,  Jejaranan, Tambur, Genggong, Drama Sakral, Cupak Grantang,  Wayang Kulit, Rudat,  Macapat, Gansing, Selodor, Engrang, Pencak, Layang-layang dan Main Karet. Selain itu, ada pula objek wisata buatan berupa wisata agro Sekedek yaitu budi daya tanaman jeruk. (Linggauni Suara NTB)


Share:

Air Terjun Titian Batu Kawangan Lombok Tengah Sajikan Kesegaran Alami

Air Terjun Titian Kawangan Lombok Tengah
Air Terjun Titian Kawangan berada di Kabupaten Lombok Tengah menyajikan kesegaran yang alami. Bagi wisatawan yang mungkin merasa bosan berkunjung ke pantai, air terjun ini merupakan salah satu alternatif destinasi wisata yang dapat dikunjungi.

Air terjun ini berada di Desa Lantan Kecamatan Batukliang Utara. Memang tidak banyak yang berkunjung ke air terjun ini, karena belum dimasukkan dalam paket wisata oleh para pelaku pariwisata.

Waktu tempuh menuju air terjun ini dari Kota Mataram sekitar 2,5 jam menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Wisatawan disarankan menggunakan kendaran roda dua agar lebih mudah mengakses air terjun ini. Jalur yang dilalui dari Desa Lantan menuju kawasan wisata Titian Batu Kawangan merupakan jalan tanah yang licin dan berdebu. Di Desa Lantan, Kecamatan Batukliang Utara ini terdapat 9 air terjun yang dapat dikunjungi, salah satunya Air Terjun Titian Batu Kawangan ini.

“Saat sampai, semua lelah terbayar. Memang air terjunnya tidak terlalu tinggi dan airnya tidak terlalu deras, tapi suasananya itu sangat menyegarkan,” ujar wisatawan asal Kota Mataram Ririn, di Mataram, Selasa (12/12/2017).

Meski demikian, ia menyayangkan di destinasi ini tidak ada fasilitas apapun. Sehingga mengurangi kenyamanan wisatawan yang berkunjung. Kendati wisatawan masih bisa menikmati suasana dan keindahan alam di air terjun ini.

“Memang tidak ada apa-apa karena belum ditata oleh pemerintah. Tapi kita masih bisa menikmati suasananya yang menyegarkan dan bisa foto-foto dengan latar air terjunnya,” ujarnya.

Wisatawan hanya dapat menjangkau air terjun ini dengan berjalan kaki dengan waktu tempuh kurang lebih 25 menit dari parkiran motor. Air terjun ini juga sering disebut dengan Air Terjun Tete Batu oleh masyarakat sekitar. Wisatawan juga akan disambut dengan keramahan penduduk sekitar yang memang sudah terbiasa dengan kedatangan wisatawan. (Linggauni Suara NTB)


Share:

Monday, December 11, 2017

Gili Sunut dan Keindahan Alam yang Memikat Hati Wisatawan

Gili Sunut Lombok Timur (istimewa)
Gili Sunut merupakan salah satu destinasi wisata yang ada di Kabupaten Lombok Timur. Belakangan pantai ini semakin banyak dikunjungi wisatawan karena keindahannya. Apalagi pantai ini juga dekat dengan destinasi wisata lainnya. Gili Sunut berada di Dusun Temeak Desa Pemongkong Kecamatan Jerowaru.

Gili Sunut memiliki garis sejajar dengan wilayah Tanjung Ringgit. Gili ini juga berdekatan dengan Tanjung Bloam dan Pantai Tangsi atau Pantai Pink. Hanya saja, kondisi jalan menuju Gili Sunut masih memprihatinkan. Sekitar 2 kilometer mendekati lokasi gili ini masih berupa jalan tanah. Pada musim penghujan, kondisi fisik jalannya pun menjadi licin dan sulit dilewati.

“Jadi bisa sekali jalan, ke Pantai Pink sekaligus ke Gili Sunut. Sayang kalau tidak berkunjung ke banyak gili lainnya,” kata wisatawan asal Surabaya Beni Putra, Minggu (10/12/2017).

Ia mengatakan bahwa Gili Sunut memiliki keindahan yang tidak kalah dari gili-gili lainnya. Namun wisatawan harus menyiapkan tenaga ekstra untuk bisa sampai di gili cantik ini. Sebab kondisi jalan yang rusak akan membuat perjalanan wisatawan menjadi sedikit terganggu. Namun wisatawan yang mampu sampai di gili ini akan tersihir dengan keindahannya. Pemandangan sekitarnya yang memukau, objek wisata yang indah serta lokasi budidaya mutiara yang cukup terkenal.

Kondisi pantai di Gili Sunut memiliki kesamaan dengan pantai-pantai yang ada di sekitarnya. Tekstur pasir putih bercampur merah muda dan berbentuk butiran merica. Demikian pula tekstur batu karang yang ada  di Gili Sunut, semuanya berwarna pink dan sangat indah dipandang mata.

Keindahan bawah laut yang ada di Gili Sunut yaitu wisatawan dapat menemukan berbagai jenis bintang laut. Dari yang berwarna biru maupun yang berwarna merah jingga. Demikian juga aneka ragam terumbu karang yang memukau serta kawanan ikan yang sedang berkerumun.

“Kalau mau snorkeling dan diving memang Gili Sunut itu tempat yang paling pas. Dari semua tempat menyelam yang saya tahu di NTB ini, Gili Sunut yang paling indah bawah lautnya. Ikannya banyak macamnya, selain itu juga bersih,” ujarnya.  (Linggauni)
Share:

Letusan Gunung Agung Mulai Turun, Okupansi Hotel di Lombok Mulai Membaik

Salah satu menu hotel di Lombok dengan sajian lengkap untuk tamu. Minggu kedua Desember, kunjungan tamu hotel mulai membaik setelah letusan Gunung Agung mulai mereda
Setelah sebelumnya disibukkan dengan dampak aktivitas erupsi Gunung Agung, saat ini pariwisata mulai berjalan normal. Meski belum maksimal, namun okupansi hotel dianggap sudah mulai naik. Sehingga dapat dipastikan pariwisata NTB perlahan kembali normal.

“Kita patut bersyukur karena sekarang okupansi hotel mulai naik dari sebelumnya yang hanya 30 persen sekarang sudah lebih. Ini berkat kerja keras semua pihak dalam memajukan pariwisata NTB,” kata Ketua Asosiasi Hotel Mataram Ernanda Agung, di Mataram, Sabtu (10/12/2017).

Ia mengatakan bahwa di minggu kedua bulan Desember ini terjadi peningkatan okupansi hotel di Kota Mataram. Ini memperlihatkan bahwa saat ini wisatawan sudah kembali ingin berkunjung setelah sebelumnya sempat menunda kedatangannya ke Lombok.

“Sekarang sudah ada yang melakukan penjadwalan ulang. Meskipun tidak semua, tapi kita lihat ini ada peningkatan dibandingkan minggu sebelumnya,” ujarnya.

Ia juga mengatakan bahkan ada salah satu hotel di Kota Mataram yang okupansinya mencapai 90 persen. Ini merupakan pertanda yang baik, sebab wisatawan sudah tidak takut lagi untuk berkunjung. Ditambah dengan pembukaan bandara yang dilakukan oleh Manajemen LIA.

“Bandara sudah dibuka  dan beroperasi normal, saya rasa ini juga yang menjadi pertimbangan kenapa banyak wisatawan yang memutuskan untuk melakukan penjadwalan ulang kunjungan,” ujarnya.

Ia berharap kunjungan wisatawan ke NTB, khususnya Kota Mataram bisa terus meningkat. Sehingga okupansi hotel juga bisa semakin membaik kedepannya. Sebab pariwisata NTB merupakan salah satu sektor yang diunggulkan untuk meningkatkan perekonomian warga. Terutama warga yang berada di lingkar destinasi.

“Kami pikir wisatawan sudah paham dengan kondisinya. Bahwa Lombok aman untuk dikunjungi. Pada awalnya kan mereka takut karena mereka berpikir Lombok dalam kondisi yang berbahaya, padahal tidak,” ujarnya.

Ia juga berharap semua pihak dapat terus berupaya untuk memberikan yang terbaik kepada wisatawan. Selain itu, promosi juga dapat dilakukan secara berkelanjutan. Mengingat kondisi Lombok yang dalam keadaan baik dan aman untuk dikunjungi wisatawan dari mana saja. (Linggauni)
Share:

Tuesday, December 5, 2017

Dampak Meletusnya Gunung Agung, Kunjungan ke Gili Trawangan Menurun

 
Wisatawan di Gili Trawangan saat menunggu boat untuk diseberangkan ke Bali, Semenjak Gunung Agung meletus 25 November 2017, tingkat kunjungan wisatawan ke Gili Trawangan menurun
Gili Trawangan masih menjadi salah satu destinasi wisata primadona di NTB. Namun sepekan terakhir jumlah kunjungan ke Gili Trawangan dan Gili Air mengalami penurunan drastis. Hal ini juga dapat dilihat dari penurunan jumlah wisatawan yang menyeberang dari Padangbai ke Gili Trawangan dan Gili Air mengalami penurunan.

Dilansir dari Harian Bisnis Bali, bahwa jumlah wisman (wisatawan mancanegara) yang menyeberang semakin berkurang. Pada hari biasa, jumlah wisman yang menyeberang lebih dari 1.000 orang. Dalam sehari yang menyeberang dari Padangbai ke Trawangan kurang dari 100 orang. “Sehari yang menyeberang paling 50 orang,” kata Tokoh Pemuda Padangbai Karangasem, Yuyun seperti dilansir dari Harian Bisnis Bali.

Hal yang sama juga diungkapkan pelaku pariwisata di Gili Trawangan, Dino SA yang merasakan berkurangnya jumlah kunjungan beberapa hari terakhir. Ia mengatakan bahwa selama erupsi, tingkat kunjungan wisatawan di Trawangan mengalami penurunan. Jalanan di Trawangan dan wisatawan di pantai juga terlihat lengang. Ini karena kunjungan wisatawan tidak banyak. “Semoga ini tidak berlangsung lama. Jadi kunjungan wisatawan bisa normal. Baik yang datang dari Bangsal, Teluk Nare atau yang datang dari Padangbai,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, setiap harinya setidaknya ada 1.500 orang wisatawan mancanegara yang masuk ke kawasan tiga gili itu. Paling banyak masuk ke Gili Trawangan. Total kunjungan wisatawan ke kawasan tiga gili setiap harinya mencapai 2.600 orang. Termasuk wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Sementara jumlah kunjungan terbanyak masih didominasi oleh Gili Trawangan.

Ia mengatakan bahwa ini sudah menandakan bahwa pariwisata NTB masih sangat bergantung pada Bali. Ia berharap ke depan akan semakin banyak penerbangan langsung ke Lombok. Sehingga wisatawan yang berkunjung ke Lombok tidak perlu melalui Bali. Ini juga sekaligus mempermudah akses wisatawan untuk menjangkau Lombok. (Linggauni)

Share:

Pokdarwis Besasakan Kotaraja Kecamatan Sikur Dikukuhkan

Pengukuhan Pokdarwis Besasakan Desa Kotaraja Kecamatan Sikur bertempat di Aula Kantor Desa Kotaraja, Senin (27/11/2017).

Kabupaten Lombok Timur (Lotim) merupakan salah satu daerah yang kaya akan potensi objek wisata, baik pegunung, pantai, alam dan lainnya. Namun, potensi ini belum dikelola secara maksimal. Untuk memaksimalkan pengembangan potensi pariwisata, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang sudah tersebar di sejumlah desa di Lotim diharapkan lebih aktif berperan.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Pemasaran pada Dinas Pariwisata (Dispar) Lotim, Hasbi, SE, saat acara pengukuhan Pokdarwis Besasakan Desa Kotaraja Kecamatan Sikur, Senin (27/11/2017).

Diakuinya, masyarakat Desa Kotaraja sangat menjaga etika, tingkah laku dan tutur kata. Hal itu menjadi salah satu aset pariwisata Lotim yang harus dikembangkan dan dipertahankan. Misalnya, dengan sikap dan etika yang baik, akan mampu meninggalkan kesan yang baik kepada tamu, termasuk para wisatawan.

Untuk itu, perlu dilakukan penguatan akar-akar budaya. Di mana dalam penguatan akar budaya itu perlu sinergitas antara semua pihak terkait, baik antara pemerintah daerah dengan pemerintah desa, Pokdarwis maupun denga masyarakat. "Orang pariwisata tidak bisa bekerja sendiri. Melainkan harus saling membantu dan bekerjasama. Keberadaan stakeholder sangat dibutuhkan, termasuk Pokdarwis untuk mendukung perkembangan pariwisata di Lotim," terangnya.

Dengan sinergitas yang baik itu, lanjut dia, maka tujuan dalam pengembangan pariwisata di Lotin dapat terlaksana dengan baik. Menurutnya, pariwisata merupakan harapan sumber pendapat negara nomor tiga setelah gas dan sawit. Dengan demikian, sangat penting potensi pariwisata dikelola dengan baik yang tentunya terlebih dahulu harus menyatukan pemikiran.

Adapun bukti keseriusan Pemda Lotim, di bawah kepemimpinan Bupati Lotim, H. Moch Ali Bin Dachlan dan Wakil Bupati Lotim, H. Haerul Warisin, di mana keduanya memiliki komitmen yang tinggi untuk mengembangkan pariwisata di Lotim. Seperti akan dibangunnya Ancol Mini bertempat di Labuhan Haji dengan anggaran miliaran.

Sementara, Kades Kotaraja, Lalu Supiandi, menjelaskan, pembentukan Pokdwaris Besasakan Desa Kotaraja berasal dari kemauan masyarakat Kotaraja, karena situasi dan kondisi di Desa Kotaraja sangat memprihatinkan. Dalam pembentukannya ini, katanya, Pokdarwis Kotaraja membutuhkan dana, membutuhkan support anggaran dari pemerintah.

Sedangkan, Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM, H. Lalu Wirabhakti, menyanjung pemberian nama Besasakan pada Pokdarwis Desa Kotaraja. Pada kesempatan itu, ia mengimbau kepada Disbudpar suapaya tetap melakukan Jambore Pokdarwis yang disertai dengan dukungan dana, sehingga pembinaan adat, budaya bisa maksimal. (Yoni Ariadi/Lombok Timur)
Share:

Perang Topat, Perang yang Ditunggu-tunggu Masyarakat Lingsar Lombok Barat


Wagub NTB H. Muh. Amin, Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid melempar topat sebagai tanda Perang Topat dimulai

Wakil Gubernur NTB H. Muh Amin, SH., M.Si membuka secara resmi tradisi budaya perang topat di Pura Lingsar, Lombok Barat, minggu sore (3/12/2017).

Pembukaan Perang Topat ditandai dengan pelepasan beberapa ekor merpati oleh Wagub bersama Bupati Lombok Barat dan dilanjutkan dengan pelemparan topat pertama oleh wagub.
Wagub H. Muh. Amin, Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid bersama penari di Perang Topat

Di hadapan para tokoh adat, budayawan, ulama dan ribuan masyarakat yang mengikuti tradisi tersebut,  Wagub Muh. Amin menjelaskan bahwa perang topat adalah perang yang tidak akan pernah ada rasa menang dan kalah. Didalam peperangan itulah akan menghasilkan kedamaian. "Ini adalah salah satu contoh keunikan dan kekayaan budaya daerah kita yang memiliki makna mendalam dalam memupuk kebersamaan di tengah kebhinekaan negeri ini," jelasnya

Ia berharap event budaya perang topat yang unik dan  indah ini, terus dijaga dan dilestarikan. Perang topat merupakan suatu fakta sejarah bahwa kita hidup ditengah keanekaragaman yang begitu indah.

Menurutnya, ke depan seni budaya perang topat dapat menjadi salah satu tradisi budaya NTB yang mendorong perhatian wisatawan, sehingga NTB semakin kokoh menjadi destinasi berkelas dunia. "Bila dikemas dengan baik tradisi perang topat akan menumbuhkembangkan ekonomi kreatif yang bisa mendatangkan para wisatawan dan tentu akan berdampak lebih besar bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan menurukan angka kemiskinan sebagai salah satu program pemerintah,” pungkas Wagub.
Persembahan tarik batek baris di Perang Topat Lingsar

Dalam kesempatan yang sama, H. Fauzan Khalid, menjelaskan bahwa perang topat adalah perang yang dilaksanakan dengan penuh kegembiraan yang dilakukan oleh dua unsur agama dan suku. Tempat berperang topat ini juga menceriminkan terpeliharanya dua budaya dari golongan muslim dengan suku sasaknya dan hindu dengan suku balinya . "Jangan bapak ibu pernah berharap di Bali akan menemukan pura yang di dalamnya terdapat Kemaliq (seperti musala). Pada dasarnya setiap pura yang ada di Kabupaten Lombok Barat itu sebenarnya harus ada Kemaliq. Dan ini sudah dicontohkan di Pura Lingsar ini," ujar Fauzan Khalid.

Ditambahkan pula bahwa keunikan pura di Lombok Barat ini betul-betul mencerminkan toleransi dan nilai kebhinekaan yang terpelihara dan menjadi nafas masyarakat Kabupaten Lombok Barat khusunya di Lingsar.

Bawa dulang topat di acara Perang Topat di Pura Lingsar Lombok Barat


Sebelumnya Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat Ispan Junaidi dalam laporannya menjelaskan bahwa prosesi perang topat adalah prosesi religi dan budaya yang setiap tahun rutin dilaksanakan sebagai kalender of event di Kabupaten Lombok Barat. Perang topat adalah satu-satunya perang di dunia yang membawa kedamaian. Semoga dari Desa Lingsar ini terwujud sebuah prosesi budaya, sebuah refleksi keharmonisan dan kedamaian di muka bumi dan mudah-mudahan akan menjadi sebuah legenda bagi seluruh umat yang beraneka ragam budaya dan dengan keyakinannya yang berbeda - beda. (Humas NTB)

Share:

Monday, November 20, 2017

Kemenpar Tetapkan Desa Setanggor Jadi Model Desa Wisata Nasional

Menpar Arief Yahya mengunjungi Desa Wisata Setanggor Lombok Tengah, Jumat (17/11/2017). Desa Setanggor dijadikan sebagai model pengembangan desa wisata nasional. 

Pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) saat ini tengah menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) pengembangan desa wisata secara nasional. Dalam upaya mengembangkan desa wisata ini, Kemenpar telah menetapkan Desa Wisata Setanggor Kecamatan Praya Barat Lombok Tengah (Loteng) sebagai model pengembangan desa wisata nasional.
Penegasan ini disampaikan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, saat mengunjungi Desa Wisata Setanggor, Jumat (17/11/2017).

Didampingi Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB, H. L. Moh. Faozal, S.Sos., M.Si., Sekda Loteng, H.M. Nursiah, S.Sos.M.Si., Menpar, menegaskan, kalau penyusunan SOP pengembangan desa wisata lahir setelah dirinya melakukan diskusi mendalam dengan Presiden Joko Widodo. Diskusi dengan presiden terkait bagaimana pola pengembangan desa wisata di Indonesia.

Dalam hal ini, ujarnya, pemerintah pusat menilai, kalau desa wisata bisa menjadi alternatif destinasi wisata yang bisa dijual kepada wisatawan, khususnya wisatawan asing selain destinasi-destinasi wisata pada umumnya yang sudah ada sebelumnya. ‘’Dan, nyatanya potensi pengembangan desa wisata cukup menjanjikan,’’ ujarnya.

Hanya saja, tambahnya, dalam pengembangan desa wisata belum ada standar baku yang bisa menjadi acuan atau pedoman, sehingga perlu dibuat SOP yang jelas dengan mencontoh desa wisata yang sudah berkembang. “Dan, setelah kita Googling di internet ternyata Desa Wisata Setanggor cocok sebagai model pengembangan desa wisata nasional,” terangnya.

Atas dasar itulah kemudian pihaknya turun melihat langsung seperti apa desa wisata yang tengah dikembangkan oleh Desa Setanggor sekaligus melihat kekurangan dan kelemahan yang ada. Dari turun lapangan ini menjadi bahan pertimbangan di tingkat pusat untuk menentukan langkah-langkah penyempurnaan.

Menpar menegaskan, untuk penyusunan SOP pengembangan desa wisata ditarget bisa tuntas tahun ini juga, sehingga  mulai tahun depan SOP bisa diterapkan dan bisa sebagai pedoman dalam pengembangan desa wisata secara nasional.

Ia pun mengaku kalau Desa Wisata Setanggor memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan desa wisata lainnya. Salah satunya, destinasi wisata yang ditawarkan cukup variatif atau tidak monoton hanya ada beberapa destinasi tertentu, sehingga para wisatawan yang datang bisa menikmati berbagai destinasi dalam sekali kunjungan.

‘’Hal itulah yang mungkin belum dimiliki desa wisata lainnya. Sehingga patut kalau kemudian Desa Wisata Setanggor menjadi model pengembangan desa wisata nasional. Terhadap beberapa kekurangan fasilitas pendukung, nanti akan kita coba dorong lewat Kementerian Desa. Termasuk dari Kemenpar juga akan ikut membantu,”  janjinya. (Munakir)



Share:

Definition List